Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Agustus 2012

Minyak Sumbawa


Definisi dan Komposisi Utama
            Minyak sumbawa merupakan obat tradisional khas NTB yang dibuktikan secara empiris mampu mengurangi beberapa penyakit antara lain mengobati luka, keseleo serta gejala inflamasi pada otot, tulang dan sendi.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada salah satu produk minyak sumbawa, terdapat lebih dari puluhan bahan-bahan yang disunakan dalam pengolahannya. Berikut ini adalah beberapa komposisi utama yang terdapat pada minyak sumbawa :
1.      Oleum cocos (Minyak Kepala)
2.      Cymbopogonis folium (Daun Sereh)
3.      Zingiberis rhizoma (Rimpang Jahe)
4.      Parameriae laevigata (Kayu Rapat)
5.      Curcumae domesticae Rhizoma
6.      Nigellae sativae semen (Biji Jinten Hitam)
7.      Myristicae Semen
8.      Mel
9.      Piperi Nigri Fructus
10.  Syzygli Floos
11.  Retrofracti Fructus
12.  Aleuritidis Semen
13.  Amomi Fructus
14.  Alii Sativi Bulbus
15.  Tectonae Folium

II.2.3. Khasiat
Minyak sumbawa dipercaya berkhasiat untuk mengurangi gejala rematik, keseleo, sakit pinggang, luka, koreng, luka bakar, sariawan, sakit gigi,  digigit serangga dan meningkatkan vitalistas pria, dan mempercepat pemulihan kondisi ibu pasca persalinan. Pemanfaatan minyak sumbawa yang umum  oleh masyarakat adalah mengurangi nyeri dan bengkak pada tulang, sendi dan otot, dan mempercepat penyembuhan berbagai macam luka. Cara penggunaannya dioleskan di bagian yang mengalami kelainan atau diminum untuk mendapatkan efek sistemiknya. Selain itu minyak sumbawa juga dipercaya berkhasiat sebagai peluruh angin (karminatif), pereda  kejang (antispasmodik), penurun   panas   (antipiretik), penambah nafsu makan (stomakik) (Anggreni, 2005)

II.2.4. Kandungan Kimia
            Komponen Cymbopogonis folium pada minyak sumbawa ternyata mengandung geraniol dan sitronelal (Anggraeni, 2005). Selain itu, kulit, kayu dan akar Parameria laevigata yang menjadi komponen utama minyak sumbawa ternyata mengandung flavonoida dan polifenol, daunnya juga mengandung saponin dan tanin. Saponin merupakan senyawa surfaktan, dari berbagai hasil penelitian disimpulkan bahwa saponin bersifat hipokolesterolemik, imunostimulator, dan antikarsinogenik. Mekanisme antikarsinigenik saponin meliputi efek antioksidan dan sitotoksik langsung pada sel kanker. Sumber utama saponin adalah biji-bijian khususnya kedelai. Saponin dapat menghambat pertumbuhan kanker kolon dan membantu kadar kolesterol menjadi normal. Tergantung pada jenis bahan makanan yang dikonsumsi, seharinya dapat mengkonsumsi saponin sebesar 10-200 mg.
Tanin adalah astringen jalur usus, dapat mengurangi sekresi cairan dalam usus, sehingga kadar air dalam kotoran manusia berkurang sehingga dapat mencegah mencret. Polifenol adalah kelompok zat kimia yang ditemukan pada tumbuhan. Zat ini memiliki tanda khas yakni memiliki banyak gugus fenol dalam molekulnya. Pada beberapa penelitian disebutkan bahwa kelompok polifenol memiliki peran sebagai antioksidan yang baik untuk kesehatan. Antioksidan polifenol dapat mengurangi risiko penyakit jantung dan pembuluh darah dan kanker. Terdapat penelitian yang menyimpulkan polifenol dapat mengurangi risiko penyakit Alzheimer. Berfungsi sebagai antihistamin (antialergi).
Flavonoid berfungsi melancarkan peredaran darah ke seluruh tubuh dan mencegah terjadinya penyumbatan pada pembuluh darah, mengurangi kandungan kolesterol serta mengurangi penumbunan lemak pada dinding pembuluh darah, mengurangi kadar resiko penyakit jantung koroner, mengandung antiinflamasi (antiradang), berfungsi sebagai anti-oksidan, membantu mengurangi rasa sakit jika terjadi pendarahan atau pembengkakan.

Minggu, 19 Agustus 2012

“Vegetarian with Egg vs Vegetarian without Egg” Pilih yang Mana?


“Ma, kenapa kita nggak boleh makan daging?” Pertanyaan ini mungkin akan seringkali terlontar dari mulut anak keluarga vegetarian. Kemudian, ibu mereka mungkin ada yang menjawab,”Semua binantang adalah teman kita, mereka diciptakan untuk membantu manusia. Contohnya saja, sapi membantu pak tani membajak sawah, kuda membantu pak kusir menarik delman, cacing pintar menyuburkan tanah. Jadi kita harus menyayangi mereka, tidak membunuh dan memakan mereka”. Itu adalah jawaban sederhana yang dapat menjadikan anak sebagai vegetarian seperti orang tua mereka. Tapi, alasan menjadi vegetarian tidak sesederhana itu, salah satunya karena alasan agama. Selain itu, mereka menganggap makanan vegetaris lebih banyak mengandung zat-zat makanan (karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral) yang dapat mengurangi resiko penyakit, lebih alami, memberikan stamina yang lebih tinggi, hemat dan ekonomis serta memilki harapan hidup yang lebih lama. Mengenai harapan hidup, telah dilakukan penelitian bahwa Orang Hunza di daerah pegunungan Pakistan Utara makanan pokoknya adalah biji-bijian dan sayur-mayur, dan kebanyakan mencapai umur diatas 100 tahun. Orang Otomi di Mexiko dan orang pegunungan di Equador kebanyakan berumur panjang, karena makanan sehari-hari mereka adalah biji-bijian, sayur mayur dan buah-buahan.
Berbagai latar belakang yang menjadikan seseorang vegetarian menyebabkan adanya perbedaan tipe vegetarian berdasarkan jenis makanannya. Ada vegetarian yang juga makan telur (ovo vegetarian). Sebaliknya ada juga yang tidak makan telur, murni vegetarian, biasanya diebut vegan. Kedua tipe vegetarian mempunyai resiko masing-masing untuk defisiensi akan makro ataupun mikronutrien. Akan tetapi, vegen (vegetarian murni) mempunyai potensi yang lebih besar untuk mengalami defisiensi makronutrien ataupun mikronutrien.
Salah satu umber asam amino lengkap penting telur. Protein dalam produk telur lengkap, yang berarti bahwa telur menyediakan semua asam amino esensial dalam perbandingan yang tepat. Sebaliknya, sebagian protein tumbuhan tidak lengkap, yang defisien akan satu atau lebih asam amino esensial. Jagung misalnya, defisien akan asam amino lisin. Memang, seorang vegan dapat memperoleh semua asam amino esensial dalam jumlah yang mencukupi dengan cara memakan kombinasi makanan yang melengkapi satu sama lain. Buncis misalnya, menyediakan lisin yang tidak terkandung dalam jagung; sementara buncis defisien akan metionin, asam amino yang terdapat dalam jagung. Dengan demikian. Makanan yang terdiri atas buncis dan jagung dapat menyediakan semua asam amino esensial (Campbell, 2005: 22). Akan tetapi, permasalahnnya adalah kombinasi sayur-sayuran tersebut harus dikonsumsi pada satu hari yang sama. Karena tubuh tidak dapat menyimpan asam amino, maka defisiensi suatu asam amino esensial akan menghambat sintesis protein dan membatasi pengguanaan asam amino esensial. Kenyataan tersebut menuntut seorang vegan untuk benar-benar makan dengan kombinasi  sayur yang tepat. Berbeda dengan ovo vegetarian yang mempunyai opsi telur sebagai sumber asam amino esensial lengkapnya sehingga kemungkinan defisiensi asam amino esensialnya lebih kecil dari vegan.
Berdasarkan penelitian, anak yang vegan (vegetarian murni) mempunyai pertumbuhan yang relatif lambat meskipun badannya sehat. Sementara, anak yang ovo vegetarian mempunyai pertumbuhan yang normal seperti halnya anak-anak non vegetarian pada umumnya (Sabate, 2001: 776). Hal ini kemungkinan berkaitan dengan defisiensi protein pada anak yang vegan. Dalam fenomena sehari-hari, anak memang seringkali tidak patuh dengan makannya. Demikian pula dengan anak vegan yang tidak taat pada makannya. Akan tetapi, ketidak patuhan anak yang vegan beresiko lebih besar pada diri anak tersebut dibandingkan dengan anak ovo vegetarian ataupun non vegetarian. Ketakpatuhan untuk makan semua makanan yang disajikan orang tua anak yang vegan telah berpotensi besar menyebabkan anak tersebut defisiensi protein. Sementara, protein sangat penting sebagai zat pembangun tubuh anak sehingga defisiensi akan asam amino esensial tertentu yang pada akhirnya menyebabkan defisiensi protein dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan.
Selain, beresiko defisien akan asam amino esensial, vegan (vegetarian murni) juga beresiko defisien akan vitamin B12 yang sumber utamanya dari daging, telur, dan produk susu. Defisiensi vitamin ini dapat menyebabkan anemia dan kelainan sistem saraf. Hal itu, terkait dengan fungsi vitami B12, yakni sebagai koenzim dalam metabolisme asam nukleat dan diperlukan untuk maturasi sel-sel darah merah (Campbell, 2005:24). Akan tetapi ternyata, setelah disurvey, tidak hanya vegan yang mengalami defisiensi B12, tapi juga ovo vegetarian, bahkan orang  yang non-vegetarian meski persentasenya memang berbeda. Berikut data defisiensi vitamin B12 vegan, ovo vegetarian (dalam penelitian ini lacto ovo vegetarian= vegetarian yang mengonsumsi susu dan telur), juga orang yang non vegetarian.
                                                                                    (Herrmann, et al., 2001: 1097)
*HME=high meat eaters, LME=low meat eaters, LOV=lacto ovo vegetarian, vegans= pure vegetarian, HCY= homocysteine, MMA= metilmalonic acid
Dari tabel tersebut terlihat bahwa jumlah non-vegetarian yang mengalami defisiensi vitamin B12, yang pengonsumsi tinggi daging 0%, dan pengonsumsi rendah daging 11%, smentara ovo vegetarian 6%, dan yang tertinggi pada vegan, yakni 14%. Data tersebut menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap defisiensi vitamin B12 tidak hanya status vegetarian atau bukan, ovo vegetarian atau vegan, tetapi juga gaya hidup masing-masing individu. Akan tetapi, secara umum, dapat disimpulkan bahwa vegan yang memang tak makan telur berpotensi lebih besar untuk mengalami defisiensi vitamin B12 dibandingkan dengan ovo vegetarian yang makan telur.
            Pada vegetarian murni/vegan, resiko defisien akan zat besi juga relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan vegetarian yang makan telur/ ovo vegetarian. Besi (Fe) dapat didaptkan dari telur, juga memang dapat didapatkan dari sayuran berdaun hijau seperti bayam. Akan tetapi, Fe yang didapatkan dari sayuran diabsorbsi dengan jumlah yang rendah jika dibandingkan dengan Fe yang didapatkan dari  telur. Hal ini terkait, dengan waktu transit makanan berserat seperti sayuran yang membutuhkan waktu lebih sedikit dari makanan non serat seperti telur sehingga absorbsi besi dari sayur (bayam, brokoli) sangat minim (Wijaya, 2007:3).
            Tiap pilihan memang memiliki keuntungan dan resiko masing-masing, demikian juga dengan pilihan sebagai vegetarian, baik itu vegan ataupun ovo vegetarian. Dari beberapa penelitian, memang resiko defisiensi nutrient pada vegan lebih besar jika dibandingkan dengan pada ovo vegetarian. Akan tetapi, latar belakang yang kuat untuk menentukan pilihan sebagai vegan pada sebagia orang (misalnya karena perintah agama) menyebabkan para vegan tak memilih opsi sebagai ovo vegetarian. Walaupun demikian, semua resiko kembali ke individu masing-masing. Baik vegan, ovo vegetarian ataupun non vegetarian sekalipun akan sama-sama beresiko defisien akan nutrien jika lifestyle, khususnya pola makan mereka tidak baik, begitu juga sebaliknya.

PENGAWET MAKANAN SINTESIS


Perkembangan zaman banyak menghasilkan berbagai ide dan inovasi baru. Perkembangan teknologi sudah menghasilkan berbagai terobosan yang mutakhir. Perkembangan tersebut membawa manusia pada bebagai kemajuan di bidang ekonomi., kesehatan, bioteknologi, dll. Kemajuan ini ada kalanya bermanfaat bagi manusia dan ada kalanya berdampak negatif bagi manusia.
            Salah satu kemajuan yang memiliki dampak positif dan negatif tersebut adalah kemajuan di bidang pengolahan makanan dalam bentuk kaleng maupun botol. Dalam pengolahan makanan ini biasanya terdapat zat pengawet (preservatives).
Zat pengawet ada yang sintesis dan ada pula yang alami. Bahan pengawet ini dicampurkan di makanan untuk memperpanjang daya tahan suatu makanan. Makanan yang beredar di pasaran menggunakan pengawet sintesis. Penggunaan pengawet ini membuat makanan dapat bertahan hingga berbulan-bulan. Selain itu pengawet juga digunakan bertujuan agar rasa dan warna makanan lebih menarik.
Namun dibalik manfaatnya, pengawet sintesis dapat berdampak buruk bagi kesehatan. banyak masyarakat yang tidak mengetahui dampak dari penggunaan pengawet ini. Masyarakat sekarang ini banyak yang mengkonsumsi makanan instan tanpa memperhatikan kandungan Sehingga sering kita lihat kasus penggunaan pengawet pada makanan dapat menimbulkan keracunan.
Makanan merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia. Manusia akan membutuhkan makanan sebagai sumber energi untuk hidup dan melakukan aktifitas sehari-hari. Makanan akan diolah dan akan menghasilkan zat makanan yang berguna bagi tubuh. Mengingat pentingnya makanan ini, kita harus menkonsumsi makanan yang sesuai dengan syarat makanan bergizi. Makanan bergizi tersebut harus mengandung nutrien makanan dan tidak mengandung zat aditif.

Menurut Hananto (2004:78):
Makanan bergizi adalah makanan yang cukup kwalitas dan kawantitasnya serta mengandung unsur yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan. Syarat Makanan bergizi meliputi mengandung protein,karbohidrat,lemak,vitamin dan mineral yang cukup, mengenyangkan, termasuk dalam 4 sehat 5 sempurna, bersih dari bakteri dan kuman atau penyakit, serta makanan yang tidak mengandung bahan adittif dan kimia.
            Di Indonesia sendiri, para produsen makanan telah banyak menggunakan pengawet untuk produksi makanannya. Hal ini terutama sering kita temukan pada makanan yang dijajakan di pinggir jalan.80% dari jajanan (makanan dan minuman) sekolah dinyatakan mengandung bahan berbahaya bagi kesehatan seperti” (BPOM, 2003).
            Bahan pengawet merupakan salah satu dari zat aditif. Zat aditif ini ada yang sintesis dan alami. Zat aditif merupakan zat kimia yang biasa dicampurkan ke dalam makanan untuk tujuan tertentu. “Zat aditif adalah bahan yang sengaja ditambahkan ke dalam makanan untuk berbagai alasan seperti  meningkatkan rasa, menghentikan makanan kering dan untuk menjaga makanan agar tetap segar.” (Grant, 1999)
Zat pengawet tersebut digunakan dalam pengolahan makanan. Zat tersebut dapat menimbulkan dampak negative apabila digunakan secara berlebihan. “Pengawet makanan termasuk dalam kelompok zat tambahan makanan yang bersifat inert secara farmakologik (efektif dalam jumlah kecil dan tidak toksis)” (Harmita, 2004).
Beberapa zat pengawet kimia yang biasa digunakan di pasaran diantaranya asam benzoat, kalium nitrit, kalium propinoat, BHA, natrium metasulfat, natamysin, dan kalium asetat.
Asam benzoat adalah bahan pengawet yang sering dipakai dalam pembuatan makanan. Bahan pengawet ini dicampurkan dalam suatu produk makanan dengan tujuan untuk mempertahankan bahan pangan dari serangan mikroba.
“Asam benzoat disebut juga senyawa antimikroba karena tujuan penggunaan zat pengawet ini dalam makanan untuk mencegah pertumbuhan khamir dan bakteri terutama untuk makanan yang telah dibuka dari kemasannya. (Achmad, 2009).” .
Kalium nitrit merupakan bahan pengawet sintetis yang berwarna putih atau kuning. Bahan ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Kalium nitrit mempunyai efektivitas sangat tinggi karena dapat membunuh bakteri dalam kurun waktu yang relatif singkat. Pengawet ini sering digunakan pada daging dan ikan.
Kalsium propionat termasuk golongan asam propionat. Penggunaan kedua pengawet ini untuk mencegah tumbuhnya jamur atau kapang. Jamur dan kapang sangat merugikan dalam makanan karena dapat mempercepat pembusukan. Bahan pengawet ini biasanya digunakan untuk produk roti dan tepung, .
Natamysin adalah bahan pengawet yang tidak aman bila dikonsumsi walaupun bahan pengawet ini juga dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme dalam makanan/minuman. Di dalam tubuh, natamysin ini juga bersifat toksin/racun sehingga bahan pengawet ini dilarang untuk dicampurkan ke dalam produk makanan/minuman baik sedikit maupun banyak.
Kalium asetat merupakan jenis pengawet sintetis yang juga tidak aman bila dikonsumsi. Memang kalium asetat ini dapat mengawetkan makanan/minuman. Akan tetapi, kalium asetat juga merupakan racun bila masuk ke dalam tubuh. Untuk memperoleh rasa asam, makanan/minuman umumnya ditambahi pengawet ini.
BHA merupakan pengawet semacam antioksidan sintetis. Pengawet ini digunakan untuk menghindari makanan dari rasa tengik (warna dan rasa berubah) akibat makanan teroksidasi oksigen.
 Menurut Arisman (2008:59):
Antioksidan adalah zat yang ditambahkan untuk menstabilkan makanan agar mutunya tidak berubah akibat oksidasi oleh oksigen … , fungsi antioksidan secara umum adalah mencegah, memperlambat, atau meminimalkan proses oksidasi makanan.
Penggunaan zat pengawet di atas secara berlebihan dapt menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Oleh karena itu penggunaannya harus sesuai dengan batasan yang telah ditetapkan. Dampak tersebut antara lain:
·         Asam benzoate apabila digunakan secara berlebihan dapat menghambat enzim pencernaan untuk sementara waktu dan menurunkan kadar glisin. Selain itu zat ini juga dapat mengganggu pernafasan khususnya pada penderita asma.
·         Kalium nitrit dapat menyebabkan keracunan apabila digunakan secara berlebihan. Selain itu zat ini dapat menimbulkan anemia, sesak nafas, sakit kepala, dan radang ginjal.
·         Kalium propionat dapat menimbulkan migren dan kesulitan tidur apabila digunakan secara berlebihan.
·         Natamysin dapat menimbulkan gangguan pencernaan yang menyebabkan orang tersebut mual dan muntah-muntah dan dapat menimbulkan luka pada selaput kulit.
·         Kalium asetat dapat menyebabkan rusaknya fungsi ginjal karena zat ini sulit dikeluarnkan oleh ginjal.
·         BHA dapat menjadi karsinogen penyebab kanker apabila dikonsumsi berlebih.
Pengawet di atas merupakan pengawet yang diizinkan oleh pemerintah. Namun batasan penggunaannya diatur oleh peraturan pemerintah. “Dalam Permenkes No. 722 tahun 1988 telah dicantumkan batas maksimum penggunaan bahan pengawet untuk masing – masing jenis / bahan makanan.” (BPOM, 2003).
Ada beberapa zat pengawet yang dilarang pemerintah beredar di pasaran. Yang paling marak diberitakan saat ini yaitu boraks dan formalin. Banyak sekali ditemukan makanan yang mnegandung zat berbahaya ini. Biasanya makanan ini digunakan dalam proses pembuatan tahu dan mie. “98 sampel produk makanan  dengan rincian 23 sampel mie basah -15 produk tercemar formalin (65 %), 34 sampel aneka ikan asin - 22 sampel  tercemar ( 64,7%), 41 sampel tahu semuanya tercemar (100%).” (BPOM, 2003)
Formalin merupakan zat kimia yang mudah larut dalam air. Zat ini dapat digunakan untuk pengawetan. Zat ini biasa digunakan untuk pengawetan mayat. Penyalahgunaan zat ini ke dalam produk makanan tentunya akan berdampak pada kesehatan.
Menurut Winarno dan Rahayu (1994:97):
Formalin adalah nama dagang dari larutan formaldehida dalam air. Formalin termasuk senyawa disenfektan kuat untuk membasmi bakteri pembusuk. Formalin dapat menimbulkan mual, muntah, depresi, gangguan susunan saraf, dan gangguan peredaran darah.
            Selain formalin, penggunaan boraks pada makanan juga banyak ditemukan. Biasanya penggunaan boraks ini ditemukan dalam pembuatan makanan tradisional sepeti kerupuk. Hal ini dilakukan untuk menjaga kerupuk agar dapat bertahan lama dan tidak “anyep”.
            Dalam bukunya Winarno dan Rahayu menjelaskan (1994:101):
Boraks merupakan kristal lunak yang mengandung unsur boron dan mudah larut dalam air. Pengawetan boraks disebabkan adanya senyawa aktif asam borak yang merupakan asam organik lemah yang digunakan sebagai antiseptic.
            Sama halnya sepertinya formalin, penggunaan boraks dalam makanan juga dapat berdampak bagi kesehatan. Boraks yang dikonsumsi berlebih akan diserap kumulatif oleh tubuh dalam hati dan otak. Dosis tinggi mengkonsumsi boraks dapat menyebabkan kematian.
Apabila kita mengkonsumsi bahan-bahan pengawet di atas itu tidak secara berlebihan/masih di bawah ambang batas, maka kita tidak perlu khawatir karena tubuh kita memiliki detoksifikasi (perombak) bahan pengawet sintetis yang sangat efektif. Sistem detoksifikasi manusia terdapat pada ginjal dan hati. Bahan pengawet yang ada dalam tubuh manusia akan disaring pada ginjal dan dikeluarkan ureter yang akan ikut terbuang melalui urin.
Bahan-bahan pengawet di atas akan tergabung dengan glisin di dalam hati dan membentuk asam hippurat yang akan dikeluarkan lewat urin.” (Wibbertmann, et al. 2005:7)
Zat pengawet sudah kita ketahui sangat berdampak buruk bagi tubuh apabila dikonsumsi secara berlebih. Untuk itu sangat penting bagi kita megetahui makanan dan kandungan makanan yang kita konsumsi. Para konsumen harus memiliki pengetahuan tentang hal ini. Selain itu diperlukan kesadaran dan pengetahuan produsen akan bahayanya penggunaan zat pengawet secara berlebih. Pemerintah juga perlu mengembangkan pendidikan kepada konsumen dan produsen melalui tv, radio, dan sosialisasi langsung. Dapat pula dibentuk tim pakar keamanan pangan untuk masyrakat agar masyarakat mendapat pengetahuan yang jelas mengenai suatu kasus.
 Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa zat pengawet merupakan zat kimia yang dicampurkan ke dalam makanan. Zat tersebut adalah asam benzoat, kalium nitrit, kalium propinoat, BHA, natrium metasulfat, natamysin, dan kalium asetat. Selain zat tersebut terdapa pula formalin dan boraks yang digunakan dalam  makana. Apabila zat-zat tersebut dikonsumsi secara berlebihan dapat menimbulkan dampak negative pada tubuh. Tubuh akan mengalami gangguan kesehatan, antara lain sakit kepala, gangguan percernaan, gangguan pernafasan, alergi, gatal-gatal, dan radang ginjal. Bahan pengawet yang masuk dalam tubuh yang tidak melebihi ketentuan ambang batas yang diperbolehkan adalah tidak berbahaya karena bahan pengawet ini dapat dirombak di dalam hati dan dikeluarkan ginjal lewat urin.


















DAFTAR PUSTAKA
Arisman. (2008). Keracunan Makanan. Buku Ajar Ilmu Gizi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2003). Mengenal Bahan Pengawet Dalam Produk Pangan. Available from: http://www.pom.go.id/public/berita_aktual/detail.asp?id=98&qs_menuid=2 (Accessed 29 September 2009)
Collins, E.B. (n.d). Preservatives in Dairy Food. Journal of Dairy Sciense, 3. Available from:
http://jds.fass.org/cgi/reprint/54/1/148 (Acessed 25 September 2009).
Grant, S. (1999). The Senate Adjourment. Food Addictive by Authority of Senate. Commonwealth of Australia. Avalaible from : http://parlinfo.aph.gov.au/parlInfo/genpdf/chamber/.../hansard_frag.pdf;... (Accessed 29 September 2009)
Harmita. (n.d). Amankah Pengawet Makanan Bagi Manusia. Avalaible from: http://www.jurnal.farmasi.ui.ac.id/pdf/2006/v03n01/opini0301.pdf (Accessed 25 September 2009).
Lai, C.K and Chan, C.H. (1993). Effect of preservative onthe efficacy of terbutaline nebuliser
solution in atopic asthma, 5: 566-68. Avalaible from: http://thorax.bmj.com/cgi/reprint/48/5/566 (Accessed 25 September 2005)
Lutfi, A. (2009). Zat Aditif pada Makanan. Available from: http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/zat-aditif/ (Accessed 25 September 2009).
Sari, W.R. (2008). Dangerous Junk Food. Yogyakarta: O2.

United States Environmental Protection Agency. (1991). Inorganic Nitrate/Nitrite
(Sodium and Potassium
Nitrates). Avalaible from: http://www.epa.gov/oppsrrd1/REDs/factsheets/4052fact.pdf (Accessed 29 September 2009)
Wibbertmann, A, et al. (2005). BENZOIC ACID AND SODIUM BENZOATE. Avalaible from: www.who.int/ipcs/publications/cicad/cicad26_rev_1.pdf - (Accessed 29 September 2009).
Winarno, F.G dan Rahayu S.T. (1994). Bahan Tambahan Untuk Makanan dan Kontaminan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Wiryo, H. (2004). Gizi Masyarakat (Community Nutrition). Mataram: UPT Mataram University Press.

TV, Musuh atau Teman Bagi Anak???


Perkembangan zaman menuntut adanya perubahan dan mobilitas yang tinggi. Perkembangan zaman tak lepas dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai bidang. Muncullah berbagai alat dari hasil pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimaksudkan untuk memudahkan dan mempercepat kinerja manusia. Salah satunya adalah televisi.  Televisi adalah suatu media massa yang menyuguhkan tampilan melalui bentuk audio visual (suara dan gambar). Karena dapat dinikmati dalam bentuk suara dan gambar gerak sekaligus itulah orang lebih tertarik kepada televisi daripada media massa lainnya.
 Pada zaman sekarang ini, televisi merupakan media massa elektronik yang mampu menyebarkan informasi secara cepat dan mampu mencapai pemirsa dalam jumlah banyak dalam waktu bersamaan. Televisi dengan berbagai acara yang ditampilkan telah mampu menarik minat pemirsanya , dan mampu membius pemirsanya untuk selalu manyaksikan berbagai tayangan yang disiarkan televisi. Mulai dari infotaiment, entertainment, iklan, hingga sinetron dan film-film yang sesungguhnya tidak pantas ditayangkan.
 Kehadiran televisi sesungguhnya telah menimbulkan berbagai fenomena. Televisi memang mampu menayangkan acara-acara yang begitu menarik karena telah ditambahi dengan aksesoris-aksesoris sehingga membuat pemirsanya begitu mengagumi televisi. Walaupun tanpa mereka sadari, televisi mampu mengubah mereka sedikit demi sedikit. Segala sesuatu diciptakan pasti ada dua dampak yang mengiringinya, yaitu dampak negatif dan positif. Dengan adanya media massa elektronik ini, banyak sekali manfaat yang dapat diambil. Dengan menyaksikan televisi, seseorang dapat memperoleh informasi-informasi aktual yang terjadi dimanapun secara cepat dan lebih jelas. Selain itu, televisi juga mempermudah suatu perusahaan atau badan usaha untuk mempromosikan produk-produknya .  Namun televisi juga mempunyai dampak negatif dalam kehidupan. Hal ini sangat terasa pada anak-anak yang jiwanya masih sangat labil dan masih dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan sering mereka telan mentah-mentah. Televisi dan anak adalah dua komponen yang sangat sulit dipisahkan. Anak-anak adalah penggemar nomor satu media televisi. Rata-rata anak menggunakan hampir sebagian besar waktunya untuk menonton acara televisi, tanpa memikirkan pantaskah acara yang sedang mereka tonton saat itu. Padahal anak adalah berada pada usia yang rentan. Mereka belum dapat menentukan yang baik dan yang buruk. Mereka biasa meniru atau mengimitasi kebiasaan yang sering mereka lihat dan dengar.
Pada dasarnya, televisi mempunyai sisi baik. Karena televisi dapat berfungsi sebagai media hiburan dan pendidikan, serta dapat membuka dunia baru untuk anak-anak, memberi mereka kesempatan untuk mengenal dunia, belajar tentang budaya yang berbeda, dan mendapatkan paparan ide-ide yang mereka mungkin tidak pernah menjumpai dalam komunitas mereka sendiri. TV dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Anak merupakan kondisi di mana seseorang berada dalam kondisi pertumbuhan dan perkembangan. Dalam kondisi ini seseorang akan mempelajari segala hal dalam menuju tahap kedewasaan.
Menurut Moersintorwati B.Narendra dkk, 2002:
“Pertumbuhan ialah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interselular, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh dalam arti sebagian atau keseluruhan.” Sedangkan Perkembangan adalah bertambahnya kemampuann struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks, jadi bersifat kualitatif yang pengukurannya jauh lebuih sulit daripada pengukuran pertumbuhan.”
Dalam pertumbuhan dan perkembangannya seseorang anak akan megalami proses pertumbuhan dan perkembangan dalam berbagai aspek. “seorang anak dapat tumbuh dan berkembang melalui tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan, baik secara fisik, mental, emosi, dan sosial sesuai dengan potensi yang dimilki agar menjadi manusia dewasa yang berguna.” (Narendra,2002)
            Televise dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak anak. Hal ini dapat mempengaruhi kemampuan anak dalam berkomunikasi, membaca dan memahami sesuatu serta akan cenderung membuat seorang anak tidak memiliki kreatifitas.
            Pertumbuhan serta perkembangan otak anak banyak dipengaruhi oleh factor eksternal. Pada masa anak-anak, seseorang akan banyak mempelajari sesuatu dari lingkungannya. Segala hal yang ia pelajari dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak.
Menurut buku Tumbuh Kembang Anak dan Remaja, 2002:
Pengalaman yang diberikan sedini mungkin pada saat  otak mulai berkembang mempunyai pengaruh yang sangat besar dan spesifik, bahkan menetap seumur hidup. Hal ini merupakan penemuan baru dalam penelitian mengaenai otak. Pertumbuhan otak bayi manusia berbeda dengan mamalia lainnya, karena sebagian besar pertumbuhan otak bayi terjadi setelah lahir dan banyak dipengaruhi oleh banyak factor lingkungan termasuk pengalaman, stimulasi/pendidikan yang diberikan kepadanya.”
Televise merupakan suatu bentuk alat komunikasi satu arah. Hal ini yang menyebabkan komunikasi verbal pada anak terhambat. Seorang anak akan lebih dominan mengikuti segala hal yang ia lihat di televise.
            Anak mulai mengembangkan kemampuan bahasa yang memungkinkannya untuk berkomunikasi dan bermasyarakat dengan dunia kecilnya....Ia masih belum mampu untuk berfikir secara timbal balik. Ia masih banyak memperhatikan dan meniru perilaku....” (Piaget, 1974:167-76).
            “Menonton TV yang serba cepat dan selintas membuat anak terperangkap dengan penuh daya pikat sehingga mengaiami kesulitan membedakan sikap yang positif maupun yang negative” (Supriyono, 2000)
            Selain dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak, televise dapat mempengaruhi kesehatan anak yaitu dapat menimbulkan obesitas. Kegiatan menonton televisi kebanyakan merrupakan kegiatan yang pasif dimana anak hanya duduk, melihat dan mendengarkan Hal ini tidak menutup kemungkinan anak dapat menjadi gemuk karena mereka biasanya menonton televisi disertai dengan makan cemilan. Serta adanya prilaku anak yang konsumtif terhadap iklan makanan yang mereka saksikan di televise. “Obesitas adalah penimbunan lemak yang berlebihan secara umum pada jaringan subkutan dan jaringan lainnya di sluruh tubuh” (Markum, 1991). “Menonton TV yang serba cepat dan selintas membuat anak terperangkap dengan penuh daya pikat sehingga mengaiami kesulitan membedakan sikap yang positif maupun yang negatif.”
           
TV juga dapat menyebabkan anak matang secara seksual lebih cepat. Tayangan yang disiarkan di tv sangat jarang mengkhususkan untuk klasifikasi masing-masing usia, selain tu tidak jarng seorang anak mendapatkan pendidikan seks secara tidak benar melalui televise. “Sebagian besar sekolah tidak menawarkan program pendidikan seks lengkap. Jadi anak-anak mereka mendapatkan banyak informasi tentang seks dari televisi.” (Kyla Boyse, R.N.,2009)
Anak- anak cenderung lebih lama menghabiskan waktunya untuk menonnton televise. apabila telah berada di depan televise, seorang anak tidak akan melakukan kegiatan fisik lainnya. Mata mereka tidak akan lepas dari layer televise. TV adalah permen karet untuk mata." (Frank Lloyd Wright)
Menonton tv yang berlebihan dapat mengganggu kesehatan mata. Sesungguhnya penggunaan mata yang terus menerus dengan memfokuskannya pada suatu gambar atau gerakan di suatu bidang yang kecil dapat menimbulkan kelelahan yang luar biasa pada syaraf-syaraf mata.Inilah yang terjadi ketika seorang membaca atau menyaksikan TV dimana mungkin terjadi ketegangan pada mata apabila cara melihatnya tidak memenuhi syarat-syarat kesehatan seperti cahaya yang terlalu terang atau gelap, jarak yang jauh atau terlalu dekat.
            Dilihat dari berbagai dampak yang ditimbulkan, kita harus pintar mensiasati penggunaan televise di rumah. Diperlukan peranan orang tua untuk dapat mengawasi anak mereka dalam menonnton tv. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak negativ menonton tv yaitu
  • Dorong anak anda untuk menonnton program ilmu pengetahuan, seni, musik dan olahraga yang membuat belajar tentang dunia lebih menarik.
  • Mengembangkan kebiaasaan menonnton tv yang baik.
  • Mengenali pesan media yang dapat mempegaruhi anak.
  • Mengembangkan sikap kritis mengenai pesan yang terkandung pada media.
  • Gunakan tombol bisu saat iklan untuk mengurangi ketertarikan anak terhadap iklan tersebut.
  • Merekam program yang memiliki manfaat positif bagi anak.
  • Jauhkan tv dari kamar anak-anak
  • Matikan tv selama makan dan jangan biarkan anak menonton tv sambil mengerjakan pekejaan rumah
Televise merupakan media yang memiliki dampak postif dan negative bagi
anak.. Namun disamping itu, peran serta orang tua dalam mengawasi dan mengatur, serta membimbing  anak mereka, sangat berpengauh besar terhadap perilaku anak, agar mereka tidak terpengaruh ke dalam dampak negtif  yang ditimbulkan dari menonton televisi.





















DAFTAR PUSTAKA

Dowsen,S (2008). How TV Affect Your Child. Available from: http://www.kidshealth.org/parent/positive/family/tv_affects_child.html .(Accessed 25 September 2009).

Gupta,R.K. et al. (1994). The Impact Of Television On Children. Available from: http://www.springerlink.com/content/c11w133p .(Accessed 30 September 2009).
Janardhan,J.,Anita,B.(n.d.). Tv And Impact On Children. Available from: http://www.learningnet-india.org/ini/data/learning_aids/tv-booklet/TV-HandOut-Nov0706.pdf.(Accessed 27 September 2009).

Kyla Boyse, R.N.(n.d). Television (TV) and Children: Your Child: University of Michigan Health System. Available from: http://www.med.umich.edu/yourchild/topics/tv.htm .(Accessed 27 September 2009).
Markum, AH, et al. (Editors). (1991). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. 1st  edition. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Nurhasanah,I.(2008). TV Antara Kebutuhan Dan Ancaman. Available from: http:// http://www.majalahnh.com/index.php/liputan/109-tv-antara-kebutuhan-dan-ancaman.pdf .(Accessed 28 September 2009).
Piaget,J.(1974).The Relation Of Affective To Intelligence In The Mental Development Of The Child. New York : International Universities Press, 167-76.
Raharjo, Teguh Budi.(2008).Pengaruh Iklan Makanan Ringan Terhadap Sikap Konsutif Anak-Anak SD. Available from: http://www.lemlit.unila.ac.id/file/arsip%202009/PROSIDING%20dies%20ke-43%20UNILA%202008/ARTIKEL%20Pdf/Teguh%20BR%20243-250.pdf.(Accessed 1 oktober 2009).
Seto, S. (2002). BUKU AJAR 1 TUMBUH KEMBANG ANAK DAN REMAJA. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Supriono.(2000).Dampak Menonton Televise Vs Minat Baca. Available from: http://lib.ugm.ac.id/data/pubdata/pusta/supriyono3.pdf. (Accessed 1 oktober 2009).